Pasar Sukaria, Pasar yang Dipicu Pagandeng

Pasar Sukaria, Pasar yang Dipicu Pagandeng

Pasar Rakyat Sukaria merupakan salah satu pasar tradisional Makassar yang terletak di Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakukkang. Mula berdiri pasar ini dipicu pagandeng, pedagang keliling kebutuhan rumah tangga yang memakai motor atau sepeda berjualan.

Klasifikasi-Pedagang-Pasar-Rakyat-Sukaria-versi-30-Mei-2016 @Tanahindie

Ada sekitar 4 lorong untuk bisa menyelusuri setiap sudut ruang pasar tersebut. Saya memulainya dari lorong pertama di bagian sisi kanan pasar. Di sini ada penjual baju yang lokasinya berada dalam kios sedangkan pagandeng hanya berada di luar. Ke dalam lagi tembus ke lorong berikutnya tempat kita dapat menemukan pedagang sembako yang menempati kios paling belakang. Sekitar 4 kios berjejer dan di tengah-tengah pasar terdapat pedagang ikan dan ayam, kosmetik, dan baju. Saya terus berjalan hingga sampai kelorong keempat yang berada disebelah kiri pasar, yang tiap kiosnya diisi oleh pedagang baju yang saling bersisian. Ada juga warung kopi Daeng Bahar di bagian depan ujung kiri pasar hingga saya sudah mengelilingi pasar ini.

Menurut Pak Ikbal, pengelola dan pemilik tanah yang ditempati Pasar Rakyat Sukaria, pasar ini terbentuk karena awalnya pagandeng-gandeng sering memarkir dagangannya di Jalan Andi Pettarani. Petugas Satpol PP atau kepolisian sering mengusir mereka karena dianggap mengganggu lalu lintas dan memacetkan jalanan. Para pagandeng harus mencari tempat, yang kemudian mereka dapatkan di pinggir Jalan Sukaria. Warga sekitar merasa terganggu.

Camat mendatangi Pak RT meminta menindak tegas pedagang yang sering berjualan di pinggir jalan tersebut. Pak RT ketika itu mulai berpikir bagaimana sebaiknya proses pengelolaan pagandeng di jalan tersebut. Akhirnya, Hj Nursiyah, istri Pak Hanafi, membeli sebuah tanah tepat di samping rumahnya dengan panjang 21 meter dan lebar 23 meter yang nantinya dijadikan sebagai lahan untuk pembangunan pasar. Hj Nursiyah, mertua Pak Ikbal, meminta menantunya yang berpengalaman mengelola usaha pasar untuk membangun Pasar Sukari. Pak Ikbal sendiri memiliki usaha dagang baju yang berada di Pasar Borong Makassar.

Pak Ikbal dulunya tinggal di Jalan Laiya. Ia pindah ke Jalan Sukaria setelah menikah. Istri Pak Ikbal, Ibu Imelda, hingga sekarang dikenal sebagai “preman pasar” yang setiap hari menagih sewa kios-kios di pasar tersebut.

Pada tanggal 13 Januari 2013, Pasar Rakyat Sukaria resmi didirikan dan dikelola langsung oleh Pak Ikbal. Menurut lelaki yang dikenal humoris ini, perputaran uang yang berada di pasar tersebut per harinya bisa mencapai 30-35 juta. Pak Ikbal sendiri memasang harga sewa di pasar tersebut dengan rincian sebagai berikut:

Harga-Sewa-Berdasarkan-Dagangan @Tanahindie

Kalau pasar di Makassar umumnya dikenai retribusi oleh pengelola, maka di Pasar Rakyat Sukaria tidak memberlakukannya. Retribusi sendiri sebenarnya memiliki makna sebagai sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh masyarakat kepada pemerintah (dalam hal ini pengelola pasar).

Pak Ikbal membangun pasar ini tanpa campur tangan pemerintah. Ia juga hanya mengajukan Izin Keramaian Pasar terhadap Polisi agar jika terjadi hal yang tak diinginkan, Polisi bisa membantu menanganinya. Pak Ikbal tambahkan, pasar yang didirikannya itu bisa saja beberapa tahun kemudian sudah tidak ada. Sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bangunan lainnya.

Bangunan di atas tanah 21 x 23 meter ini menggunakan kayu sebagai dinding, seng sebagai atap, lantai di beton, dan sebagiannya ditegel, warna kuning sebagai cat yang paling mendominasi. Tiap kios memiliki luas 2,5 x 2,5 meter dan didominasi pedagang baju dan cakar. Sementara penjual ikan dan sayur hanya memarkirkan motornya di lahan yang telah disediakan.

Pasar ini buka setiap hari. Namun keramaiannya hanya sampai jam 12 siang. Pada jam itu, para pagandeng sudah berbenah. Hanya beberapa pedagang tetap membuka dagangannya seperti pedagang baju dan pedagang bumbu dapur.

Di Pasar Rakyat Sukaria, pedagangnya didominasi oleh warga Sukaria. Namun tak sedikit pedagang berasal dari Gowa, terutama pagandeng-gandeng yang menggelar dagangan di luar.

Ibu Megawati, salah seorang pedagang menuturkan, ia sudah berjualan sejak pasar itu didirikan. Bersama orangtuanya, perempuan asli Enrekang ini menjual berbagai macam bumbu dapur—mulai bawang merah, bawang putih, sagu, jeruk nipis, merica, kacang, jagung, kemiri, tomat, cabai, sampai sayur kangkung. Pasokan itu diperolehnya dari Pasar Terong.

Pak Ikbal mempercayakan keamanan Pasar Rakyat Sukaria pada Daeng Bahar. Sebelumnya, Daeng Bahar berdagang gorengan di sekitaran Sukaria. Pak Ikbal mempekerjakan lelaki yang tinggal di Jalan Sukaria 11 ini dengan imbalan sebuah kios (yang diubahnya jadi warung kopi) dan menggajinya Rp 500.000/bulan.

Soal kebersihan, Pak Ikbal juga mempekerjakan Daeng Sosso. Sama dengan Daeng Bahar, lelaki ini juga digaji dan diberi imbalan satu kios. Sebagai petugas kebersihan, ia mulai membersihkan mulai jam 1 malam. Pak Ikbal juga memberi Daeng Sosso fasilitas sepeda motor untuk mengangkut sampah-sampah tersebut.

Di sekitar pasar tersebut dikelilingi oleh rumah warga, beberapa warung makan, kios barang sembako, pagadde-gadde, beberapa sekolah seperti SD Tamamaung I, SMP dan SMA DHARMA YADI MAKASSAR, asrama putri Papua, komunitas Yamaha, komunitas Vespa, salon, kost, masjid, bengkel motor, depot air minum, studio foto, tak jauh dari pasar tersebut terdapat pusat tempat pembuangan sampah seluruh warga Sukaria.

Asmi, warga Jalan Sukaria 13, mengatakan, keberadaan Pasar Rakyat Sukaria sangat membantu. Berbelanja pakaian, ia tidak perlu jauh-jauh lagi ke Pasar Sentral yang terletak sekisar 10 kilometer dari tempat tinggalnya. Ia cukup ke langganannya. Kalau pun tidak ada warna atau motif yang ia suka, ia bisa memesan langsung ke si pedagang. Pedagang baju yang berada di Sukaria juga merupakan pedagang dari Pasar Sentral, salah satu pusat eceran tertua di Kota Makassar.

Hal ini juga berlaku dengan kebutuhan bahan makanan sehari-harinya. Kak Asmi tak perlu lagi ke Pasar Karuwisi, Jalan Keamanan, Maccini Parang, yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Jelas, kata Asmi, harga di Pasar Karuwisi lebih murah Rp 1000-2000 rupiah.

(Nur Fadhilah Harka, anggota Tim Peneliti Bom Benang 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *