Orang-orang dan Secuil Sejarah Kawasan Jalan Barukang

Orang-orang dan Secuil Sejarah Kawasan Jalan Barukang

MELIMPAHNYA ikan di Kota Makassar menggambarkan bahwa sebagian masyarakat sekitar menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Paotere yang terletak di wilayah utara Makassar menjadi pelabuhan tradisional sekaligus kawasan pelelangan ikan. Para pa’lelang, sebutan untuk pembeli kontan ikan dari nelayan pulau, kemudian menjualnya kembali ke pasar-pasar tradisional yang ada di kota ini.

Sekisar lima ratus meter di selatan Pelabuhan Paotere, terdapat permukiman warga Jalan Barukang III. Di kawasan ini, hidup Pak Kamaruddin yang pernah menjadi pa’lelang di masa mudanya. Lelaki asli Takalar yang biasa disapa Daeng Kamaruddin ini dahulu memasok ikannya ke pedagang-pedagang pasar tradisional Makassar. Sekarang usianya 70 tahun. Rambutnya putih semua. Sudah 47 tahun ia mengalami buta total, tak jelas sebabnya apa.

Tahun 1962, ia sempat menjadi tentara gerilya. Waktu itu laki-laki yang berusia muda dan kuat akan diarahkan menjadi tentara gerilya. Situasi ketika itu tidak kondusif. Tahun 1963, ketika keadaan mulai aman, Pak Kamaruddin memutuskan berhenti menjadi gerilyawan. Tahun 1966, ia menjadi menjadi kepala RK (Rukun Kampung) di wilayah Barukang. Suka duka menjadi kepala RK di zaman PKI mulai ia ceritakan.

“Waktu dulu, kalau malam mi, sessa meki kita yang RK buat penanda. Kalau tenggelam mi matahari, mulai meki memperingatkan pakai lampu-lampu. Jadi ada pelita di dalam baskom yang berisi air. Sengaja di kasi dalam air, supaya tidak diganggui sama tikus,” terangnya.

Kala itu pemberantasan anggota PKI mulai berjalan. Pak Kamaruddin harus memeriksa setiap orang yang baru datang di wilayahnya. Menurutnya kalau ada orang asing yang masuk di Barukang, KTP harus diperiksa. Kalau orang tersebut masuk dalam kelompok PKI, maka di KTP-nya terdapat cap Palu Arit. Kalau perempuan, di pahanya ada tato Palu arit. Jika terbukti masuk di kelompok PKI, maka orang itu akan dibawa ke Kantor Lurah.

“Waktu itu tempatnya Kantor Lurah, tapi sekarang sudah jadi Pegadaian yang dekat Pasar Panampu. Kalau sudah dari situ tahanan langsung dikirim ke daerah Tabo-Tabo Pangkep. Di sana dikasi kerja mereka. Kerja kebun,” jelasnya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Pasar Panampu.

Sewaktu istrinya masih hidup, beliau menjual minuman seperti es buah dan pallu butung di daerah pelabuhan. Bersama sampannya ia pergi sendiri mencari nafkah. Meski tak bisa melihat ia bisa pergi dan kembali sendiri ke dermaga tanpa ada yang menuntunnya, tidak hanya itu, ia juga bisa menghitung jumlah uang dengan tepat meskipun tak melihat.

“Saya juga pernah dikeroyok sembilan orang, tapi saya tidak terluka sama sekali. Karena saya punya jimat-jimat,” katanya, sambil mengeluarkan jimat-jimat yang dibungkus kain lusuh, di dalamnya terdapat dompet kecil yang sering digunakan sebagai tempat emas, setelah dibuka isinya berupa baca-baca, “Ini yang buat saya kebal,” tegasnya.

Sejak lahir ia tinggal di Jalan Barukang. Wilayah ini kini diapit oleh Pelabuhan Paotere dan juga Pasar Panampu, yang konon dulunya adalah empang yang ditimbun. Tahun 1966, ia menempati sebuah rumah dan berlantai bambu beratapkan rumbia, sebagaimana juga rumah warga lainnya. Tak heran ketika terjadi kebakaran tahun 1969, wilayah ini dengan cepat habis dilalap api. Sumber api berasal dari rumah salah seorang penjual kacang, yang tidak sengaja menjatuhkan pelita di atas baskom yang berisi minyak tanah. Waktu itu memang sedang musim minyak tanah di koperasi, jadi hampir setiap warga menyimpan persediaan minyak tanah di baskom besar yang terbuat dari tanah liat.

Pasca kebakaran, aktivitas di Barukang kala itu lumpuh total. Pak Kamaruddin saat itu menjabat sebagai kepala RK. Beliau memasok semua bantuan dari Walikota Kol. H. Muhammad Daeng Patompo untuk masyarakat sekitar. Menurutnya, banyak pendapat yang mulai beredar saat itu, katanya warga tidak bisa lagi membangun rumah di sini karena tidak punya sertifikat rumah. Karena diancam seperti itu, warga dengan cepat memulihkan diri pasca kebakaran. Beruntung pada saat kejadian, warga menyelamatkan dokumen-dokumen penting milik masing-masing. Waktu itu belum ada sertifikat rumah, yang ada hanyalah izin membangun.

Menurut Pak Kamaruddin, warga hanya butuh waktu semalam untuk membangun rumah. Karena kalau tidak dengan cara itu, pemerintah bisa mengambil alih lokasi rumah mereka. Situasi saat itu tegang. Setiap warga punya membawa parang untuk berjaga-jaga kiranya akan ada serangan dari pemerintah.

Seiring berjalannya waktu, Barukang tahun 1969 yang kosong dan hangus berubah menjadi jejeran rumah kayu yang padat penduduk pada tahun 1970-an. Kebakaran kembali terjadi di tahun 1982, tapi kerugian yang dialami tidak separah yang terjadi tahun 1969. Sumber api kebakaran di tahun 1982 berasal dari rumah penjual bassang (bubur jagung putih) di Jalan Barukang IV. Warga punya cara tersendiri menyelamatkan harta bendanya dari api. Melihat pengalaman telah terjadi kebakaran sebelumnya, Pak Kamaruddin mulai menyimpan uangnya di dalam kaleng besi. Sewaktu kebakaran terjadi uang tersebut aman dari api.

Daerah Barukang ini mulai dilirik sebagai daerah hunian. Sebagian penduduk berasal dari Parepare, Pangkep, Barru, Takalar, dan Gowa. Warga sekitar Barukang bekerja sebagai pa’lelang, buruh di pelabuhan, dan pedagang di pasar.

Banyaknya penduduk yang berasal dari daerah lain juga menambah banyaknya paham yang ada di daerah Barukang. “Di sini dulu punya tradisi yang semakin hari semakin ditinggalkan. Seperti ziarah kubur leluhur Barukang. Sebagai anak kita wajib pergi tengok-tengok kita punya leluhur. Supaya senang-senang juga leluhur ta diliat sama cucu-cucunya. Sekarang kalau kita pergi ziarah begitu dibilangi meki musyrik sama sebagian orang di sini,” terang Daeng Jumriah.

Daeng Jumriah masih masuk ke dalam garis kekeluargaan Daeng Kamaruddin. Tinggal di Jalan Barukang III, Lorong 3 No. 59 C. Rumahnya bersebelahan dengan rumah Daeng Kamaruddin. Keluarga ini masih menjalankan tradisi tersebut sebelum masuk bulan puasa. Menurut Daeng Jumariah, jumlah orang di Barukang sudah terbagi dalam menjalankan tradisi. Ia perkirakan, tinggal 40 persen masih menjalankan tradisi tersebut.

Ada satu cerita lagi yang masih dipercaya oleh warga setempat, yakni kembaran buaya. Hampir setiap tahun warga yang meyakini dirinya memiliki leluhur yang berasal dari air pergi ke laut sekadar menghanyutkan telur dan daun ota (sirih) sebagai bentuk penghargaan kepada leluhur atau kembarannya yang berada di dunia lain.

Di antara kepungan modernitas yang ada dan paham yang berbeda-beda, rupanya tidak mempengaruhi hubungan sosial Daeng Saripah dan tetangganya. Menurutnya, kalau ada orang menikah di sini, tetangga biasanya membantu menyediakan bahan-bahan yang dianggap kurang pada acara itu.

“Kalau kurangki menteganya, kita bantu mentega. Kalau kurang air dosnya, kita bantu beli. Pokoknya kalau ada kurang, tetangga selalu usahakan,” tukasnya.

 

MENGGANTUNGKAN hidup dengan mengandalkan hasil tangkapan laut para nelayan dari pulau-pulau membuat Daeng Jumariah harus selalu menyediakan modal untuk membeli ikan setiap hari. Berbagai cara ia tempuh untuk bisa mendapatkan modal sebagai pa’lelang. Salah satunya: arisan.

“Saya ikut arisan yang 10 juta. Tapi itu pun lama. Tiga tahun pi baru selesai. Setidaknya kalau ikut begituan kayak menabung. Jadi nda dirasa ada uang ta’. Biasanya juga ambil ka uang bank 50 juta untuk modal pa’lelang. Jadi kasih masuk sertifikat rumah di bank dan bayar per bulan uang banknya,” terangnya.

Daeng Jumariah tidak menghabiskan uang tersebut sekali saja. Modal yang digunakan juga disesuaikan dengan hasil tangkapan nelayan dari pulau. Seharinya, di waktu ramai, ia bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu dari hasil lelangnya. Pendapatan itu pun bagi hasil dengan pekerja yang mengangkat ikan dari kapal nelayan menuju tempat Daeng Jumariah.

Daeng Jumariah juga punya cara tersendiri agar ikannya laku dengan harga yang mahal. Sebagai masyarakat yang lama hidup di pesisir pantai, ia tahu kapan harga ikan akan naik. Di rumahnya sudah tersedia freezer untuk menampung ikan yang sudah dibelinya dari nelayan pulau.

“Tidak akan ada ikan kalau terang bulan. Makanya saya tampung ikanku di frezeer. Nanti kalau sudah terang bulan, saya jual mi. Pasti mahal harganya karena memang saat itu susah ikan didapat. Kalau tidak mau beli dengan harga mahal, jangan mi makan ikan. Misalnya harga ikan sebelum terang bulan 5 ribu, kalau terang bulan naik jadi 8 ribu,” ungkapnya, sambil tersenyum-senyum.

TPI SEKITAR Paotere itu memang menjadi sumber pendapatan sebagian masyarakat Barukang dan sekitarnya. Menurut Ramlah, 70 persen masyarakat di wilayah ini menjadi pa’lelang, sisanya jadi buruh di pelabuhan.

Di suatu hari di bulan Agustus, sekitar pukul 5 sore, ikan baru saja datang dari pulau. Gabus pa’lelang mulai terisi satu per satu. Di samping tumpukan penampungan ikan milik pa’lelang, terlihat bos pa’lelang sedang sibuk menerima dan menghitung uang. Ternyata, kapal yang datang itu terlebih dahulu menjual ke bos pa’lelang, setelah itu baru dibeli oleh pa’lelang yang ada.

Kadang di waktu seperti ini, biasanya terjadi perkelahian antar pa’lelang. Jika kurang kapal yang masuk, pasokan ikan pasti menurun. Keadaan itu membuat orang saling berebut ikan. Ada yang sudah terisi gabusnya, tapi pa’lelang lain mengambilnya. Dari situlah emosi pa’lelang mulai tidak terkendali. Bahkan menurut cerita, pernah ada yang baku tikam sesama pa’lelang gara-gara pasokan ikan yang kurang.

Cerita ini saya dengar dari Firman, bapak dua anak, yang menjadi pa’lelang sejak lima tahun yang lalu. Sebelumnya ia sempat berprofesi sebagai penyelam. Setiap subuh hingga menjelang magrib, ia menghabiskan waktunya ma’lelang di TPI. Dengan modal Rp 5 juta ia membeli ikan di bos pa’lelang, dan membagi keuntungan jualannya kepada 4 orang anak buahnya. Dengan modal 5 juta biasanya mendapat untung 1 juta. Ikannya kadang habis dalam tiga hari.

“Kalau dijual satu gabus ikan itu biasanya 250 ribu, kita untung 100 ribu. Kalau ditawar jadi harga 225 ribu, kita untung 75 ribu. Dijual saja sesuai kemampuan pembeli. Kalau tinggal lama ikan, terpaksa dijual dengan harga murah. Yang penting keluarga bisa makan saja,” tutur lelaki 30 tahun itu.

Lain hal dengan Pak Muis dan Pak Sukri, mereka menempuh perjalanan selama dua jam dari Camba menuju Makassar untuk membeli ikan dalam jumlah banyak. Mereka memasok ke dua pasar di dua kecamatan di sekitaran Camba, Maros. Mereka bekerja sebagai pemasok ikan sudah puluhan tahun. Dengan modal Rp 20 juta sekali beli di bos pa’lelang.

“Di dalam itu banyak bos pa’lelang. Bergantung mau beli ikan apa. Saya tidak menetap di satu bos pa’lelang. Banyak kutempati ambil ikan,” tuturnya, sambil mengatur tumpukan peti gabus ikan di atas mobil.

(Nurasiyah, tim peneliti Bom Benang 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *