Ibu Isa, Pappissi’lada di Jalan Sukaria

Ibu Isa, Pappissi’lada di Jalan Sukaria

IBU ISA bisa ditemui setiap hari bekerja di depan rumahnya, di pingir Jalan Sukaria 13 B, Tamamaung, Makassar. Pekerjaan yang ia lakoni saat ini adalah memisahkan cabai dari tangkainya. Istilah setempat menyebutnya pappissi’lada. Kalau sedang bekerja di depan rumahnya, di jalan selebar dua meter, setiap ada motor yang hendak lewat, ia  harus pindahkan wadah cabainya terlebih dahulu.

Di atas jalan paving block, wanita kelahiran Malino 45 tahun lalu ini biasanya menggunakan sebuah kursi kayu berukuran kecil sebagai alas duduk. Saat mappissi’lada Ibu Isa menggunakan dua buah wadah, yakni nampan dari anyaman bambu sebagai wadah awal (tempat membersihkan cabai) dan ember tempat menampung cabai-cabai yang telah dipisah dari tangkainya.

Biasanya saat membersihkan cabai ada beberapa orang yang turut membantu. Salah satunya adalah Sitti, tinggal tak jauh dari rumah Ibu Isa. Sitti mengatakan sudah sering membantu ibu Isa membersihkan cabai, terlihat pula tangannya yang tak kalah lincah dari Ibu Isa saat memisahkan tangkai cabai.

Ibu dari lima anak ini mengatakan telah menjalani pekerjaan ini kurang lebih selama tiga tahun. Tangannya tampak lincah memisahkan tangkai cabai dan memindahkan yang telah bersih ke wadahnya. Ia sudah “kebal” rasa pedas cabai.

Perempuan langsing ini menjelaskan, cabai terasa pedas itu biasanya kalau basah atau mulai busuk. Cairan yang ada pada cabai melekat di tangan dan tangkainya susah dipisah karena layu. Karena itu harus pakai kuku. Beda cabai segar; tangkainya lebih mudah dipisahkan.

Cabai-cabai yang Ibu Isa kerjakan adalah milik adik kandungnya, Ibu Hawani, sepuluhan meter dari rumah Ibu Isa. Ibu Hawani berdagang bumbu dapur di Pasar Karuwisi. Ibu Hawani membeli cabai dari Pasar Terong. Tapi kalau harganya mahal, ia membeli langsung dari Malino dan Jeneponto. Cabai yang dibersihkan oleh Ibu Isa, disuplai untuk warung sari laut pelanggan Ibu Hawani.

Setiap pagi, Ibu Hawani membawakan tiga kantong plastik besar, masing-masing berisi 10-20 kg. Sore hari, setelah cabai bersih, Ibu Isa menyimpannya kembali di kantong plastik merah, yang keesokannya diambil Ibu Hawani lalu ditukar dengan cabai yang baru lagi. Kadang juga kalau cepat selesai, Ibu Isa sendiri yang mengembalikan cabai bersih ke adiknya dan mengambil cabai lagi. Ibu Isa mengatakan, ia bisa membersihkan cabai sampai 60 kg/hari, dengan upah Rp 1000/kg.

Sebelum mappissi’lada, Ibu Isa pernah mengikuti sebuah arisan warga yang dilakukan setiap bulan. Gaji dari suaminya yang bekerja sebagai supir ia siapkan 1 juta tiap bulan untuk arisan. Jumlah warga ikut arisan 40 orang, yang berarti Rp 40 juta sekali naik. Dari sinilah ia biayai pernikahan Edi, anak pertamanya.

 

SAAT INI Ibu Isa tinggal bertiga dengan dua anak perempuannya, Nunung, anak keempatnya, dan dan si bungsu, Neneng, di rumahnya yang sedang direnovasi menjadi rumah batu.

Rencana Ibu Isa, bagian bawah ia jadikan sebagai ruang tamu. Di bagian atasnya yang berbahan kayu sebagai tidur sementara. Rencana Ibu Isa ingin merombak total bangunan rumahnya. Tapi ia masih menabung untuk itu.

Ibu Isa menceritakan, awal tahun 90-an daerah ini mulai banyak didatangi orang-orang dari luar Makassar seperti Enrekang, Jeneponto, Gowa, dan Soppeng. Saat itu, tanah di Sukaria masih kisaran Rp 1.000.000 – Rp 1.500.000 per petak.

Kawasan Sukaria dulunya rawa, lengkap dengan pohon nipah dan baau. Rata-rata warga memilih mendirikan rumah panggung sebagai hunian. Kini hanya tersisa beberapa pohon bakau saja di pinggiran Sungai Sinre’jala, yang berada di bagian timur kawasan Sukaria. Sebelum ada pembangunan jalan dan penimbunan, warga yang membangun rumah di atas rawa ini memakai jembatan yang terbuat dari bambu sebagai jalan.

Dalam kehidupan sehari-hari di kawasan berawa, air bersih menjadi hal yang sulit. Menurut Zainal Siko, menghuni Sukaria sejak 1995, di daerah ini tidak ada sumur karena airnya keruh berwarna kecoklatan, berbau lumpur, dan agak asin rasanya. Untuk mendapat air bersih, warga menyambung selang dari rumah Mama Imbang ke rumah masing-masing. Mama Imbang yang memiliki penampungan air bersih ketika itu mematok harga air yang dialirkan ke rumah-rumah warga Rp 3000/jam.

Menurut Ibu Isa jauh sebelum itu para warga mengambil air dengan jeriken di Jalan Sukaria Raya. Ibu Isa kadang tiga empat kali bolak-balik mengangkut jeriken dari Jalan Sukaria Raya demi kebutuhan sehari-hari seperti minum, mandi, dan lainnya.

Tapi seiring perkembangan zaman dan pembangunan di Sukaria, para warga mulai merenovasi rumah panggung mereka seperti membangun tembok di bagian bawah rumah panggungnya, meninggikan pondasinya bahkan ada yang merombaknya keseluruhan menjadi rumah batu, seperti yang rencana dilakukan Ibu Isa.

 

IBU ISA kini tulang punggung keluarga sejak suaminya, Pak Yusuf , yang meninggal dunia tahun 2015 lalu. Tak bosan Ibu Isa bercerita tentang almarhum suaminya. Pak Yusuf, lelaki asal Pulau Flores, dulunya bernama Osias Osi beragama Kristen Katolik. Baru pada tahun 1987 saat hendak menikahi Ibu Isa, dia berganti nama menjadi Muhammad Yusuf dan memeluk Islam.

Anak pertama Ibu Isa, Edi, kelahiran 1988, sudah menikah dan memiliki seorang anak, yang kini tinggal mengontrak dengan istrinya tak jauh dari rumahnya. Edi alumni STIEM Tridarma Nusantara.

Anak kedua bernama Nining pun menikah sebelum Edi. Hingga kini dia belum dikaruniai anak. Ibu Isa mengatakan, ia sudah bawa anaknya memeriksa ke beberapa rumah sakit, tukang pijit, sampai dukun, tapi belum berhasil. Sebelum menikah, Nining sempat bekerja di Hotel Clarion dan Wisma Benhil. Usai menikah, suaminya melarangnya bekerja lagi.

Purnomo anak ibu Isa yang ketiga, bekerja sebagai pengemudi mobil pengangkut bahan makanan seperti terigu, gula, susu, air mineral, minyak di bawa ke warung dan pasar di Jeneponto, Takalar, Bulukumba, Sinjai, dan Bone. Nomo nama akrabnya, sebenarnya masih tinggal bersama dengan Ibu Isa. Tapi karena harus berkeliling daerah membuatnya jarang berada di rumah. Biasanya setiap tiga atau empat hari sekali ia pulang. “Sama bapaknya, tidak bisa diam. Harus selalu ada yang ia kerjakan,” ungkap Ibu Isa.

Pria kelahiran 1994 ini sudah bekerja sebagai sopir sejak masih SMP. Walau jarang masuk sekolah, Nomo tetap bisa menyelesaikan sekolahnya, dengan bantuan guru, tentunya. “Biasanya Nomo bawakan sayur-sayuran atau sembako seperti gula pasir, minyak goreng untuk gurunya,” tambah Ibu Isa.

Anak keempat bernama Nunung, tahun 2015, setelah lulus dari SMK Yapmi sempat bekerja di swalayan selama 10 bulan. Ia berhenti karena beberapa perlakuan dari atasannya dirasa memberatkannya. Pernah terjadi beberapa kehilangan barang total Rp 9 juta, pihak swalayan hanya menanggung Rp 200.000 saja, sedang Nunung bersama kelima temannya dengan gaji Rp 2 juta/bulan harus patungan menutupi kerugian setiap kehilangan. Akhirnya dia putuskan untuk berhenti bekerja di sana dan pindah ke toko jajanan di Jalan Sulawesi. Sebenarnya dia telah mendapat panggilan kerja di beberapa tempat, tapi syarat yang diajukan oleh perusahaan seperti harus memakai rok pendek dan tidak berhijab itu tidak bisa dipenuhi oleh Nunung.

Yang bungsu bernama Neneng. Baru-baru ini lulus SMP. Nunung menyarankan agar Neneng juga bersekolah di SMK Yapmi agar mudah akses ke sekolahnya. Tapi Neneng inginnya sekolah di SMKN 6 Makassar. Neneng juga membantu bibinya, Ibu Hawani. Biasanya ia bantu Ibu Hawani menakar dan membungkus terigu.

Ibu Isa sangat khawatir terhadap Nunung dan Neneng. Kekhawatiran itu pengalaman Nining yang menikah usia muda. Ibu Isa sering mendapati Nining bertengkar dengan suaminya. Ia tak ingin hal yang sama terjadi pada keduanya.

Nunung memiliki teman dekat pria bernama Fadli (22). Ibu Isa sebenarnya tahu kalau mereka berpacaran. Tapi ia menyarankan pada mereka agar menjalani seperti teman biasa saja. Ibu Isa takut kalau mereka terlalu akrab nantinya Nunung jadi malas bekerja.

Di masa senjanya Ibu Isa selain bekerja sebagai pappissi’lada, dia juga rajin mengikuti kegiatan Majelis Taklim. Sejak Masjid Al-Iklas di Jalan Sukaria 13 sudah beroperasi dengan baik sekitar setahun terakhir, Majelis Taklim yang diikutinya rutin mengadakan pengajian dan belajar aksara Qur’an tiap pekannya.

(Alif Kurniawan, tim peneliti Bom Benang 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *