Crowd Funding ala Quiqui’ untuk Bom Benang Makassar 2013

Bom Benang Makassar direncanakan sekitar sejak empat bulan yang yang lalu namun jadwal selalu berubah-ubah hingga akhirnya diputuskan 24-25 Agustus 2013. Banyak kendala yang membuat acara ini menjadi tertunda hingga tiga kali. Rencana pertama di Benteng Rotterdam karena Quiqui’ seringkali membuat piknik di tempat tersebut.

piknik perajut sekaligus merayakan One Billion Rising (OBR) bersama Lies Marcoes, Komunitas Sehati, Rumah Sokola, Komunitas Lego-lego, dll.

Bagi saya pribadi membuat acara bom benang di benteng Rotterdam sama seperti ungkapan terimakasih saya karena dapat menikmati sebuah tempat di kota dengan tenang dan nyaman tanpa harus mengeluarkan biaya. Meskipun beberapa kali saya dicegat oleh bapak-bapak berseragam abu-abu untuk masuk ke dalam pos dekat gerbang dan diminta mengisi daftar hadir pengunjung lalu dimintai sejumlah uang yang jumlahnya tidak jelas karena si bapak bilang “seikhlasnya mi kita saja”. Tentu saja saya tidak memberikan uang yang dimaksud dan malah menertawai si bapak karena tahu itu bukanlah permintaan resmi dari pihak benteng Rotterdam. Setelah sering kesitu dan dicegat oleh bapak-bapak berbaju abu-abu di depan benteng dengan pertanyaan “mau kemana, bu?” saya menjawab sambil bercanda “mau ke dalam dong, pak.”

Diluar dari kesenangan tersebut, begitu meminta ijin untuk peminjaman tempat ternyata surat yang kami kirimkan terkatung-katung. Beberapa kali Barack, ketua panitia Bom Benang Makassar 2013 bolak-balik mengecek surat peminjaman yang kami kirim namun selalu saja ada alasan agar kami tak dapat menggunakan taman. Alasan pertama surat kami tercecer di tumpukan surat yang lain. Cek jadwal pertama, 22-23 Juni tabrakan dengan jadwal orang yang sudah booking duluan menurut mereka. Kedua, 30 Juni tapi suratnya tercecer. Ketiga  30-31 Agustus tidak bisa karena tanggal 30 sudah dipesan oleh pihak lain yang juga hendak membuat acara di tempat tersebut dan hanya bisa 31 Agustus 2013. Quiqui’ menargetkan dua hari untuk event kali ini. Karena sangat kecewa Quiqui’ memutuskan mencari tempat lain.

Setelah melakukan survey beberapa kali di beberapa tempat Quiqui’ memutuskan taman segitiga cukup baik untuk menjadi target kami untuk bom benang Makassar 2013. Setelah mencari orang yang bisa menghubungkan kita dengan pihak pengelola taman segitiga akhirnya Quiqui’ dipertemukan dengan Jordan ketua KPJ Makassar (Komunitas Pemusik Jalanan) dan menceritakan tujuan Quiqui’ bertemu dan sejumlah alasan kenapa Bom Benang ini dilaksanakan.

Dari sekian alasan mengapa Quiqui’ melaksanakan aksi ini saya agak yakin Jordan mau membantu mengurus ijin acara kami karena mendengar cerita bagaimana kami mencari dana untuk aksi ini. Quiqui’ mengumpulkan dana lewat berbagai cara dan cara yang paling efektif adalah system crowd funding. Membuka seluasnya  peluang bagi khalayak untuk dapat berpartisipasi dalam acara ini.

Salah satunya lewat pengumpulan barang bekas terutama pakaian. Cara ini sangat efektif karena cukup cepat mendatangkan dana. Tapi tentu saja tidak serta merta dana datang berhamburan. Dengan modal barang bekas tersebut kami melakukan garage sale berkali-kali sampai rasanya bosan sendiri. Quiqui’ kerap menguji keberuntungan dan kemampuan kami dalam berjualan. Tentu setiap kali mengadakan garage sale ditempat-tempat yang Quiqui’ anggap strategis mendatangkan pembeli , keberuntungannya tidak selalu sama. Garage sale pertama Quiqui’ berhasil dengan sukses mungumpulkan 1 juta rupiah hanya dalam sehari. Keberuntungan di pihak Quiqui’ waktu itu karena pembelinya lebih banyak teman-teman komunitas Quiqui’ sendiri.

 
Sale Garage di depan Benteng Rotterdam, salah satu upaya Quiqui’ melakukan penggalangan dana secara mandiri.

Lain waktu peruntungan Quiqui’ berkurang kala melakukan garage sale di depan patung Sultan Hasanuddin di depan Benteng Rotterdam. Quiqui’ hanya meraup keungtungan seperempat dari keuntungan garage sale yang pertama. Belum lagi harus menutupi transportasi mengangkat barang yang banyak ke Benteng. Nasib lebih sedih lagi ketika mencoba peruntungan di Car Free Day Pantai Losari. Subuh-subuh beberapa orang anggota Quiqui’ berangkat ke Losari hari itu untuk mendapat tempat yang strategis untuk berjualan. Sampai disana ternyata sudah jauh lebih banyak pedagang yang mengambil lokasi strategis. Akhirnya Quiqui’ mendapat posisi didepan sebuah swalayan. Ternyata tak hanya puluhan orang yang jualan disitu mungkin sampai ratusan. Mulai dari mainan, ikan hias sampai pakaian dalam seperti bra dijual di tempat itu. Saya membayangkan adakah gadis yang berani membeli bra di tempat ramai seperti itu sehabis jogging? Tapi tak usah memikirkan itu. Setelah agak siang dagangan tidak juga beranjak laku. Hati teman-teman yang menjaga dagangan mulai gusar ketika melihat ada pedagang baru yang muncul dengan jenis dagangan yang sama dengan teman-teman. Semakin gusarlah teman-teman ketika diujung waktu berjualan saingan mereka ini tiba-tidak teriak “banting harga! Lima ribu! Lima ribu!”.

Kemudian muncullah dua orang lelaki bertato didepan tempat teman-teman berjualan. Yang satu hanya berdiri diam dengan posisi mengunci badan dengan otot lengan dikencangkan dengan posisi tato yang seolah dipamer di depan teman-teman. Yang satu lagi menjadi juru bicara si tato yang mengunci badan “jadi mengerti mami ki’ dih, uang parkirnya anak-anaka.” Sambil menunjuk dengan jempol kearah si lelaki pengunci badan. Seorang teman agak terganggu dan kesal melihat kelakuan dua orang ini sementara yang lain tidak tahan hendak cekikikan karena gambar tato tulang ikan si pria pengunci  badan tadi. Akhirnya teman yang kesal ini mengalah karena tidak ingin berurusan dengan kedua orang tersebut. “berapakah?” “iye, lima ribu” “oh iya ini!”. Setelah meneriman lembaran lima ribuan kedua lelaki berlalu disertai hamburan cekikikan teman-teman. Hari itu teman-teman meraup jauh dari seperempat dari keuntungan garage sale pertama.

Diposkan 24th October 2013 oleh The Ribbing Studio : http://fadalays.blogspot.co.id/2013/10/crowd-funding-ala-quiqui-untuk-bom.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *