Bom Merajut Benang 2016 Hadir di Lima Lokasi Makassar

BomBenang2013
Hasil kerajinan merajut benang oleh komunitas Quiqui pada 2012 lalu. (foto: int)

MAKASSAR – Komunitas perajut Makassar, Quiqui kembali menggelar kegiatan Bom Benang 2016 di lima lokasi, Makassar, mulai 18 Agustus hingga awal September 2016.

Lima lokasi yang menjadi tempat aksi merajut itu, seperti Jalan Barukang III (18 Agustus), Jalan Toa Daeng 3 Lorong Mawar (21 Agustus), Jalan Sukaria 13 (25 Agustus), Jalan Rajawali Mariso (28 Agustus), dan Jalan Barukang IV.

Mereka mendampingi warga di lima lokasi untuk membuat karya dan memajangnya di titik yang dipilih warga secara mandiri. Bahkan jadwal kelas dan lokakarya merajut pun ditentukan sendiri oleh warga.

“Lima kali Bom Benang sejak 2012, sudah saatnya kami ubah posisi. Dulu kami ‘dilayani’. Sekarang kami ‘melayani’,” ujar anggota Quiqui Fitriani A Dalay, Selasa 16 Agustus 2016.

Fitriani menjelaskan, kegiatan ini mengambil tema “Benang Kandung” yang dimaksudkan untuk memplesetkan istilah kekerabatan seperti “anak kandung”.

Menurutnya hal itu sebagai cara menunjukkan bahwa dengan menggunakan medium benang, orang-orang bisa saling terhubung dalam ikatan yang karib, sebagaimana layaknya hubungan antara ibu dan anak.

“Dalam proyek Bom Benang tahun ini, Quiqui mengubah posisi; dari ‘seniman’ menjadi ‘fasilitator’” ujarnya.

Mereka mendampingi warga di lima lokasi untuk membuat karya dan memajangnya di titik yang dipilih warga secara mandiri. Bahkan jadwal kelas dan lokakarya merajut pun ditentukan sendiri oleh warga.

Sejak awal Mei, kata dia, komunitas Quiqui menetapkan lima lokasi permukiman padat penghuni di Makassar dengan kriteria tertentu, semisal permukiman padat, kawasan berpotensi atau ditemukan kasus kekerasan dalam keluarga atau di lingkungan sekitar mereka.

“Kami dibantu oleh teman-teman di Tanahindie untuk penelitian dan dokumentasi. Mereka adalah kelompok peneliti perkotaan. Mereka juga selalu mendokumentasikan program-program yang kami kerjakan,” jelas Piyo, panggilan akrab Fitriani A Dalay.

Selain itu, Quiqui mencoba mengekplorasi isu yang berkaitan kekerasan pada anak, remaja, perempuan, dan antar komunitas.

Menurut data Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, 1 angka kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh pengadilan agama semakin meningkat dari tercatat 14.020 (2014) menjadi 293.220 (2015). “Ini belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan lantaran banyak sebab, seperti keengganan akibat tekanan stigma yang berpeluang mengerdilkan mental korban.” kata dia.

Dia menejalaskan berdasarkan penelusuran data dan wawancara langsung korban dan pelaku kekerasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa cara berkomunikasi dalam keluarga menjadi salah satu pemicu.

“Model komunikasi ‘satu arah’ menjadi salah satu hal yang menyebabkan persoalan ini. Ini mengakibatkan kekerasan yang berdampak munculnya anggapan anggota keluarga bahwa rumah atau keluarga tidak menjadi tempat yang aman dan nyaman. Sejatinya, lingkungan keluarga menjadi fondasi dan tempat para anggotanya untuk mengekplorasi diri dan berekspresi secara sehat.”

Bom Benang tahun ini mendaulat Anwar Jimpe Rachman dan Ibrahim Massidenreng sebagai kurator. Jimpe adalah penulis. Tahun 2015, ia menjadi salah seorang kurator untuk Jakarta Biennale 2015. Sedang Bram, panggilan akrab Ibrahim, aktif di dunia hukum dan konseling.

Bom Benang adalah kegiatan tahunan Quiqui, komunitas perajut berbasis di Makassar, yang pertama kali digelar pada 2012. Konsep mereka ini pula yang mereka bawa ketika mendapat undangan ikut Jakarta Biennale 2015, ajang pameran seni rupa terbesar di Indonesia. Mereka membawa karya-karya para anggota dan sukarelawan itu di Penjaringan, kawasan permukiman padat di Jakarta Utara.

Pelaksanaan proyek Quiqui tahun ini bekerjasama dengan Kedutaan Denmark dan Yayasan Kelola melalui program program Hibah Cipta Perdamaian 2016.

16 Agustus 2016 | http://makassarterkini.com/bom-merajut-benang-2016-hadir-di-lima-lokasi-makassar/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *