Bom Benang 2016: Benang Kandung

Bom Benang 2016: Benang Kandung

Tahun ini, Bom Benang hadir kembali. Proyek berjudul Benang Kandung menjadi tema karya untuk Bom Benang 2016. Karya ini digolongkan dalam seni serat dengan media campuran dengan dimensi bervariasi. Kata “Kandung” sebagai ungkapan menunjukkan ikatan kekeluargaan, sebagaimana dipakai dalam kata “Anak Kandung”. Kandung juga bisa berarti “Kandungan”. Mengangkat dan menilik sejauh mana peran keluarga dalam mewujudkan perdamaian untuk dunia yang lebih baik.

Bom Benang adalah istilah pengindonesiaan dari yarn bombing/knit graffiti, sebagai seni jalanan atau grafitti rajutan karena menggabungkan benang warna-warni menjadi berbagai bentuk lalu membungkusnya ke sebuah benda. Karya instalasi ini tidak bersifat permanen dan mudah dipindahkan karena itu tidak membuat kerusakan. Bom Benang merupakan proyek berskala besar yang dikerjakan Quiqui sejak tahun 2012 yang kemudian menjadi alat kampanye dalam menyuarakan aspirasi.

Bom Benang 2016 akan berlangsung di lima lokasi perkampungan Kota Makassar, akan digelar mulai 18 Agustus 2016 hingga awal September 2016. Lima kampung tersebut adalah Jalan Barukang III (18 Agustus), Jalan Toa Daeng 3 Lorong Mawar (21 Agustus), Jalan Sukaria 13 (25 Agustus), Jalan Rajawali Mariso (28 Agustus), dan Jalan Barukang IV (belum konfirmasi jadwal).

Bom Benang merupakan kegiatan tahunan Quiqui, komunitas perajut berbasis di Makassar, yang pertama kali digelar pada 2012. Konsep mereka ini pula yang mereka bawa ketika mendapat undangan ikut Jakarta Biennale 2015, ajang pameran seni rupa terbesar di Indonesia. Mereka membawa karya-karya para anggota dan sukarelawan itu di Penjaringan, kawasan permukiman padat di Jakarta Utara.

Bom Benang 2016 Menyorot Kekerasan dalam Keluarga

Quiqui mengambil tema Benang Kandung untuk Bom Benang tahun ini. Ini adalah judul yang memplesetkan istilah kekerabatan seperti “anak kandung”. Ini sebagai cara menunjukkan bahwa dengan menggunakan medium benang, orang-orang bisa saling terhubung dalam ikatan yang karib, sebagaimana layaknya hubungan antara ibu dan anak.

Dalam proyek Bom Benang tahun ini, Quiqui mengubah posisi; dari ‘seniman’ menjadi ‘fasilitator’. Mereka mendampingi warga di lima lokasi untuk membuat karya dan memajangnya di titik yang dipilih warga secara mandiri.Bahkan jadwal kelas dan lokakarya merajut pun ditentukan sendiri oleh warga. “Lima kali Bom Benang sejak 2012, sudah saatnya kami ubah posisi. Dulu kami ‘dilayani’. Sekarang kami ‘melayani’,” ujar Fitriani A Dalay, tersenyum.

Sejak awal Mei, mereka menetapkan lima lokasi permukiman padat penghuni di Makassar dengan kriteria tertentu, semisal permukiman padat, kawasan berpotensi atau ditemukan kasus kekerasan dalam keluarga atau di lingkungan sekitar mereka.

“Kami dibantu oleh teman-teman di Tanahindie untuk penelitian dan dokumentasi. Mereka adalah kelompok peneliti perkotaan. Mereka juga selalu mendokumentasikan program-program yang kami kerjakan,” jelas Piyo, panggilan akrab Fitriani A. Dalay.

Quiqui mencoba mengekplorasi isu yang berkaitan kekerasan pada anak, remaja, perempuan, dan antar komunitas. Menurut data Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, (http://www.ippi.or.id/content/elibrary/report/CATAHU-2015-Edisi-Launching.pdf), angka kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh pengadilan agama semakin meningkat dari tercatat 14.020 (2014) menjadi 293.220 (2015). Ini belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan lantaran banyak sebab, seperti keengganan akibat tekanan stigma yang berpeluang mengerdilkan mental korban.

Berdasarkan penelusuran data dan wawancara langsung korban dan pelaku kekerasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa cara berkomunikasi dalam keluarga menjadi salah satu pemicu. Model komunikasi ‘satu arah’ menjadi salah satu hal yang menyebabkan persoalan ini.Ini mengakibatkan kekerasan yang berdampak munculnya anggapan anggota keluarga bahwa rumah atau keluarga tidak menjadi tempat yang aman dan nyaman. Sejatinya, lingkungan keluarga menjadi fondasi dan tempat para anggotanya untuk mengekplorasi diri dan berekspresi secara sehat.

Proyek ini mengajak, perajut, warga dan siapapun dari seluruh penjuru kota Makassar baik tua maupun muda, lintas profesi dan gender untuk berpartisipasi mengumpulkan rajutan dengan desain dan ukuran tertentu dan terlibat dalam proses melilit benang bersama. Objek yang menjadi target Bom Benang merupakan tempat atau benda yang dianggap biasa dan cenderung terabaikan. Untuk dapat terlibat dalam proyek ini tidak harus bisa merajut, siapapun boleh berpartisipasi dan mengambil perannya masing-masing. Proyek ini mengajak siapa saja untuk terlibat mengalami proses pembuatan karya dan rencana akan dilaksanakan di 5 wilayah, yakni Batua, Pampang, Sukaria, Rumah Susun dan kompleks CV Dewi.

Bom Benang 2016 juga akan diselingi informasi mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak, maka dari itu Benang Kandung menjadi tema. Benang, adalah alat kerjanya dan merajut, melilit menjadi metode kerja, menurut Fitriani A. Dalay, koordinatot proyek ini. Kekerasan semakin marak, maka dengan kerja merajut ini bisa mengambil peran untuk mengurai soal kekerasan. Setidaknya, di akhir proyek ini ada support group yang intens di komunitas dengan merajut sambil membicarakan persoalan di sekitar, termasuk kekerasan dalam rumah tangga yang biasanya didiamkan dan tidak terurai. “Dengan ada tatap muka sambil merajut, maka bisa memicu obrolan,” kata Piyo, panggilan akrab dari Fitriani A. Dalay. Sesuai pengalaman Piyo selama merajut, dia juga merasakan regulasi emosi semakin positif, percaya diri, dan bisa bertemu banyak orang.

Sebelum Bom Benang 2016 bertema Benang Kandung akan berlangsung Juli hingga September 2016, Komunitas Quiqui juga telah menggelar lokakarya seni rajut bersama warga Kampung Nelayan Kelurahan Pattingaloang, warga Jalan Sukaria, warga Jalan Barukang III, dan warga Jalan Rajawali di Makassar selama bulan Ramadan.

Kita semua dapat memantau dan berinteraksi dalam proses kerja Bom Benang dari tahun ke tahun lewat akun Facebook Bom Benang. Jika teman-teman semua ingin bergabung dalam proses kerjanya atau ingin menyumbangkan skill maupun bahan sebagai perwakilan diri, jangan segan untuk merespon atau mengirim pesan lewat halaman Bom Benang secara langsung.

Selain di Facebook, informasi tentang ‪#‎benangkandung‬ juga akan disebar di IG ( @bombenang ), twitter ( @bombenang ), dan LINE official ( @ayh9392y jangan lupa pakai ‘@’ atau klik http://line.me/ti/p/%40ayh9392y )

Tentang kegiatan Bom Benang sebelumnya, bisa dibaca kembali pula dalam artikel dari Bom Benang tahun 2014 di link berikut: http://revi.us/menciptakan-seni-kewargaan-dengan-merajut/

Bom Benang tahun ini mendaulat Anwar Jimpe Rachman dan Ibrahim Massidenreng sebagai kurator. Jimpe adalah penulis. Tahun 2015, ia menjadi salah seorang kurator untuk Jakarta Biennale 2015. SedangBram, panggilan akrab Ibrahim, aktif di dunia hukum dan konseling.

Pelaksanaan proyek Quiqui tahun ini bekerjasama dengan Kedutaan Denmark dan Yayasan Kelola melalui program program Hibah Cipta Perdamaian 2016.

Tautan video lainnya:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=CzWTJajx0tU
  2. https://www.youtube.com/watch?v=f6EHh75r3qw

Kata kunci: #‎BomBenang2016‬ ‪#‎benangkandung‬ ‪#‎keluargadamai‬ ‪#‎hibahciptaperdamaiankelola‬ ‪#‎yarnbombing‬‪#‎senikewargaan‬

Details

Start:
July 1
End:
September 30
Event Tags:
Benang Kandung, bom benang, bom benang 2014, Bom Benang 2016, Keluarga Damai, merajut

Organizer

Komunitas Quiqui & Tim Kerja Bom Benang 2016

Sumber : http://revi.us/event/bom-benang-2016-benang-kandung/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *